RSS

Ini diantara sebab bangsaku tidak bisa maju

07 Des

Sungguh terasa beda hidup di negeri ini dibandingkan dengan di negeri tempatku belajar saat ini. Pastinya ada banyak perbedaan namun yang ingin saya bahas kali ini adalah tentang kedisplinan dalam antrian atau yang semisalnya.

Sungguh hatiku miris dengan perilaku bangsaku sendiri. Bahkan jika dibandingkan dengan Malaysia saja, kedisplinan antri sungguh jauh berbeda. Suatu saat di KL Sentral, ketika hendak naik Rapid KL train, tiba-tiba setiap orang berbaris membentuk line-up/kolom sebanyak jumlah pintu dari train. Saya sendiri terkejut dan agak kikuk karena di Sydney pun biasanya tidak begitu saat akan naik train. Akhirnya saya mengikuti antrian dibarisan belakang sendiri.

Sungguh hati ini dibikin malu dan miris ketika antri di pemeriksaan imigrasi malaysia. Tepat dibelakang saya ada seorang bapak berumur pakai songkok nasional yang akan pulang ke Padang. Suatu saat ketika saya memperhatikan sesuatu, tiba-tiba saja beliau mentakeover antrian saya dengan tanpa merasa bersalah dan sambil tersenyum. Astaghfirullahal ‘adhim.

Kejadian lain, ketika antri untuk boarding pesawat, tas punggung saya didorong orang dari belakang. Eh ternyata seorang ibu berjilbab. Saat antrian bergerak maju, kembali dia menabrak tas punggung saya. Saya lihat lagi ke belakang. Tampak beliau tidak merasa bersalah. Ketika antri maju lagi, kembali saya ditabrak, saya lihat lagi dan tetap tidak merasa bersalah. Hal demikian terjadi beberapa kali. Hati ini hanya bisa Istighfar kepada Allah. Kenapa mereka terburu-buru, juga kenapa mereka tidak merasa bersalah telah menyakiti orang lain.

Dari dua kejadian di atas, kenapa mereka terlihat biasa melakukan yang demikian. Padahal di dalam hadits riwayat Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu’anhum, ia berkata:
Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw: Orang Islam manakah yang paling baik? Rasulullah menjawab: Orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. (Shahih Muslim No.57). Mungkin saja beliau berdua belum pernah mendengar hadits ini.

Kembali tentang disiplin dalam antrian, Qodarullah saya terjebak kemacetan di Jalan Pasir Putih dari Besuk menuju Situbondo. Tampaknya kemacetannya lumayan panjang. Hati ini kembali miris ketika beberapa bus dan kendaraan pribadi masuk ke sisi jalan yang berlawanan sehingga menjadikan jalan dua arah tersebut tertutup oleh kendaraan dari satu arah. Saya hanya tidak habis pikir, tidakkah itu akan menambah parah kemacetan. Ketika ada kendaraan dari arah berlawanan pasti mereka akan berusaha masuk ke dalam barisan dan ini akan menyakiti orang-orang yang telah sabar dalam kemacetan. Alhamdulillah, terlihat polisi mengatur kemacetan sehingga tak terlihat ada yang nekat melakukan hal serupa.

Pikir-pikir, tampaknya bangsa ini telah terjangkit penyakit yang akut, penyakit “yang penting saya” tidak peduli dengan orang lain. Mungkin demikian pula yang ada dibenak para pejabat yang korup, yang penting saya kaya, tidak peduli rakyat miskin di daerah terpencil, tidak peduli sumber daya alam terkuras habis  di Papua dan yang lainnya, tidak peduli tanah negara dikuasai pribadi, tidak peduli hutan bakau jadi hotel di daerah bali, tidak peduli…, tidak peduli…, yang penting saya makmur, yang penting saya senang.

Astaghfirullah, jika sikap ini sudah mendarah daging di kebanyakan masyarakat kita, akan jadi apa negeri ini. Wahai generasi muda penerus bangsa, sadarlah. Marilah kita berbenah dan berubah. Janganlah kita mewarisi sikap buruk ini. Jika anda seorang muslim, takutlah akan suatu hari ketika kita berdiri di hadapan Rob kita Allah jalla wa’ala, untuk mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan kita di dunia yang fana ini.  
Allah SWT berfirman  di dalam surat Al Muthaffifin:(4-6)
“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan”
” pada suatu hari yang besar”
” َ(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?”

Besuki-Situbondo, 6 Desember 2013

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Desember 2013 in Nilai Kehidupan

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: